Siapa Itu Vitalik Buterin?

Nama Vitalik Buterin mungkin tidak setenar cryptocurrency buatannya, Ethereum. Tapi, perjalanannya dari mulai mengenal Bitcoin hingga mendesain sendiri cryptocurrency miliknya yang kini memiliki nilai tertinggi kedua hanya setelah Bitcoin sangatlah menarik dan cukup menginspirasi. Menariknya, Ethereum bukan sekedar copy-paste dari konsep Bitcoin, tapi berusaha memperbaiki celah-celah yang dimiliki Bitcoin terutama dari segi kemudahan dalam pembuatan aplikasi.

Kehidupan Vitalik Buterin Sebelum Ethereum

Buterin merupakan anak dari Dmitri Buterin, seorang ilmuwan komputer dengan Natalia Ameline. Walau terlahir di Russia, Vitalik Butterin lebih banyak menghabiskan waktunya di Kanada setelah keluarganya pindah ke Kanada pada tahun 2000-an untuk mendapat pekerjaan yang lebih baik. Sejak kecil, Buterin memang dikenal cerdas dalam bidang matematika. Bahkan dia sendiri mengakui jika sejak kecil memang sangat tertarik dengan matematika, programming dan ekonomi.

Di tahun 2011, Vitalik Buterin diperkenalkan mengenai konsep Bitcoin dan cryptocurrency oleh sang ayah. Melalui sebuah chat forum mengenai Bitcoin, Buterin bertemu dengan seseorang yang mencoba menuliskan blog tentang Bitcoin dan menawarkan 5 Bitcoin (sekitar $3.50 pada waktu itu atau sekitar $50,000 saat ini – Cek harga Bitcoin terbaru) untuk orang yang mau menulis artikel untuknya. Buterin menulis untuk blog tersebut hingga blognya ditutup karena kurangnya perhatian media terhadap Bitcoin.

Pada September 2011, orang yang berbeda menghubungi Buterin dan mereka pun memulai Bitcoin Magazine dimana Buterin mendapat posisi sebagai co-founder sekaligus penulis utama. Pada masa itu, Buterin juga menulis untuk Bitcoin Weekly. Bitcoin Magazine kemudian diakuisisi oleh BTC Media dan Buterin masih menulis untuk majalah ini hingga pertengahan 2014.

Dia juga menempati posisi sebagai dewan redaksi untuk Ledger, sebuah jurnal ilmiah mengenai riset di bidang cryptocurrency dan teknologi blockchain. Di tahun 2012, Vitalik Buterin bahkan ikut serta dalam olimpiade informatika internasional di Italia, IOI 2012 dan memenangkan medali perak.

Kehidupan Vitalik Buterin Setelah Ethereum

Pada 2013, Vitalik Buterin mengunjungi beberapa orang developer di negara lain yang memiliki antusias yang sama dengannya. Dan sepulang dari perjalanan tersebut, Buterin mempublikasikan white paper mengenai konsep dasar Ethereum, yang merupakan perpaduan antara cryptocurrency dan platform serta memperkenalkan bahasa pemrograman yang lebih tinggi untuk cryptocurrency. Saat mempublikasikan konsep ini, Buterin baru berusia 19 tahun.

Ethereum muncul sebagai jawaban Buterin terhadap bahasa pemrograman Bitcoin yang dianggap ‘kurang ramah’ terhadap developer. Buterin sudah pernah mengungkapkan hal tersebut, namun sarannya kurang mendapat persetujuan dari komunitas Bitcoin sehingga dia memutuskan untuk membuat sebuah platform baru yaitu Ethereum.

Tahun 2014, Ethereum mendapat perhatian dari Theil Foundation dan memberikan Theil Fellowship pada Buterin. Theil Fellowship adalah ‘beasiswa’ senilai $100,000 selama dua tahun yang diberikan pada anak-anak muda berusia dibawah 23 tahun untuk keluar dari kampus dan mengejar mimpi mereka. Konsep Ethereum pun membawa nama Vitalik Buterin masuk dalam beberapa kategori seperti pemenang World Technology Award di kategori IT Software tahun 2014, “40 Under 40” dari Fortune di tahun 2016 dan “30 Under 30” dari Forbes di tahun 2018.

Pilihan Vitalik Buterin untuk keluar dari kampus dan bekerja sepenuhnya untuk Ethereum ternyata tidak salah, karena hari ini, Ethereum merupakan cryptocurrency dengan nilai tertinggi kedua, hanya kalah dari Bitcoin.

Comments (No)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: